Total Pageviews

Recent Posts

Minggu, 31 Juli 2011

Berada bersama ibu begitu menenangkan. Sebab rasanya ibu tak pernah lelah menjadi ‘telinga terbaik’ bagi setiap cerita yang mengalir deras dari mulut saya, setiap kali sampai di rumah, selesai beraktifitas seharian. Ibu tak perlu bertanya apapun, saya akan duduk manis berlama-lama di kamarnya, menumpahkan segala yang telah memenuhsesakkan dada ini. Saya tak pernah berpikir sebelumnya, bahwa celoteh saya saat itu bisa jadi akan menambah lelah dan memberatkan beban yang sudah menggelantung di pundak ibu. Tapi senyumnya tetap melipur hati, seolah letih itu tak ada.
Hari itu, saya begitu tergesa sampai di sekolah, hampir saja terlambat. Pagi-pagi sekali, tidak seperti biasanya, saya telah ikut sibuk membereskan banyak sekali barang. Sekitar pukul tujuh, saya dan ibu telah berada di sebuah lobby hotel terkenal di Jakarta. Hari itu, untuk yang pertama kalinya, saya berhadapan dengan sekian banyak turis yang berseliweran dengan wajah-wajah penuh antusias memandangi, melihat-lihat, dan bercakap-cakap dengan kami-para penjaja barang dagangan di stand bazaar. Kali itu, saat yang istimewa bagi ibu, hari pertama menjadi peserta bazaar yang dihadiri para turis maupun pekerja asing. Saya pun tak kalah semangatnya, sepanjang siang di sekolah tak henti-hentinya tersenyum-senyum sendiri, sampai teman sebangku saya-Rani namanya-rasanya sudah begitu bosan mendengar celotehan saya tentang pengalaman pagi itu. Menyaksikan dan terkikik geli mendengar ibu bercakap-cakap dengan para pembeli. Ngawur, tapi tetap saja ngotot. Padahal ibu tak bisa berbahasa Inggris.
Saya rasa Allah telah menganugerahkan ibu sepasang ‘tangan ajaib’. Saya ingat, belasan tahun lalu, saat saya duduk di bangku SD, rumah kami penuh dengan pernak-pernik. Saat itu, puluhan gulung pita berwarna-warni menumpuk di sudut kamar. Berjejeran pula berlembar-lembar karton tebal, busa, serta tumpukan kain. Saat itu, saya selalu senang memandangi dan bermain-main di ‘pojok berantakan’ milik ibu. Kedua tangannya telah menghasilkan barang-barang yang begitu menarik di mata saya. Saat itu, saya dengan gembira menyambut tawaran ibu untuk menjadi ‘asistennya’. Dan saya pun asyik bergumul dengan plastik-plastik kecil, membukanya kemudian memasukkan pita rambut warna-warni hasil karya ibu, dan menjepitnya dengan stapler. Hanya itu. Ibu tak memperkenankan saya untuk menyentuh ‘tempat foto’ cantik buatannya, yang digantung berjejer di dinding mar. Belum lagi tumpukan souvenir pesta pernikahan, entah ada berapa ratus. Kegembiraan saya berada di antara benda-benda menarik itu seperti membuat saya lupa, bahwa saya sering menemukan ibu terkantuk-kantuk duduk di ‘meja operasi’nya sampai tengah malam, menyelesaikan pesanan.
Ibu telah menghabiskan entah berapa bagian waktu dalam hidupnya untuk menjadi ‘ember’ ternyaman bagi diri saya. Di sanalah saya menumpahkan segala macam hal yang sering membuat ibu tersenyum geli, tertawa, atau mungkin juga turut bersedih atas apa yang saya alami. Ajaibnya, kini saya tak lagi perlu memulai percakapan itu. Sepertinya ibu telah mengetahui segala isi hati saya, tanpa perlu saya ungkapkan. Begitukah seorang ibu? Saya sempat berpikir, tak usahlah lagi menceritakan segala hal padanya. Mungkin itu hanya akan menambah lelahnya. Saya memutuskan untuk berhenti berceloteh pada ibu, toh saya sudah dewasa, dan tak lagi pantas memberatkannya dengan hal-hal tak penting macam celotehan itu. Namun hari itu, ibu menelpon saya ke kantor dan menegur saya, “Ta, kapan kamu ke rumah? Kita kan udah lama nggak cerita-cerita…”
Ibu tak hanya pendengar setia bagi celoteh anaknya, namun ia juga telah memberi dan mengajarkan saya banyak hal melalui kedua ‘tangan ajaib’nya. Ia mengajarkan saya untuk selalu berusaha menjadi pendengar yang baik bagi orang lain, melalui mimik wajah serta kalimat-kalimatnya menanggapi setiap perkataan yang saya ucapkan. Saya belajar, bahwa setiap perhatian kecil yang diberikan kepada seorang anak, maka yang tersimpan padanya adalah sebuah kasih sayang besar dan keyakinan bahwa ia disayangi. Saya belajar, bahwa kedua tangan anugerah Allah ini, adalah modal bagi kerja keras yang harus dilakukan demi orang-orang tercinta, keluarga. Entah apapun yang dapat diperbuat.
Saya tak heran, betapa banyak teman dan relasi bisnis yang ibu miliki sekarang. Banyak pula kerabat dekat yang betah berlama-lama mengobrol dengan ibu. Tak sedikit orang yang mengagumi ‘bakat’ yang mereka katakan terhadap keterampilan yang ibu miliki. Ibu menyebutnya hobi, tapi saya memahaminya sebagai cara ibu bersenang-senang dengan ‘tuntutan’ padanya untuk membantu ayah membiayai keluarga. Seringkali lelah membayang dalam raut wajah ibu, namun tak jarang saya mendapatinya berbinar kala ‘tangan ajaib’nya telah berhasil ‘menciptakan’ karya baru.
Sekarang ini, adalah giliran saya untuk menjadi ‘telinga terbaik’ bagi ibu sampai hari tuanya nanti, dan mempersembahkan hasil yang dapat saya raih dari kedua belah tangan ini untuk membahagiakannya.

Sebagian besar orang memperoleh inspirasi dalam hidup mereka. Mungkin dari percakapan dengan seseorang yang kau hormati atau sebuah pengalaman. Apa pun bentuknya, inspirasi cenderung membuatmu memandang kehidupan dari sudut pandang yang baru. Inspirasiku berasal dari adikku Vicki, seseorang yang baik hati dan penuh perhatian. Ia tidak peduli akan penghargaan atau masuk dalam surat kabar. Yang diinginkannya hanyalah berbagi cinta dengan orang yang dikasihinya, keluarga dan teman-temannya.
Pada musim panas sebelum aku mulai kuliah tingkat tiga, aku menerima telepon dari ayahku yang memberitakan bahwa Vicki masuk rumah sakit. Ia pingsan dan bagian kanan tubuhnya lumpuh. Indikasi awal adalah ia menderita stroke. Namun, hasil tes memastikan bahwa penyakitnya lebih serius. Ada sebuah tumor otak ganas yang menyebabkannya lumpuh. Dokter hanya memberinya waktu kurang dari tiga bulan. Aku ingat aku bertanya-tanya, bagaimana mungkin ini terjadi? Sehari sebelumnya Vicki baik-baik saja.
Sekarang, hidupnya akan berakhir pada usia begitu muda. Setelah mengatasi rasa kaget dan perasaan hampa pada awalnya, aku memutuskan bahwa Vicki membutuhkan harapan dan semangat.
Ia memerlukan seseorang yang membuatnya percaya bahwa ia dapat mengatasi rintangan ini. Aku menjadi pelatih Vicki. Setiap hari kami membayangkan bahwa tumornya menyusut dan semua yang kami bicarakan bersifat positif. Aku bahkan memasang poster di pintu kamar rumah sakitnya yang bertulisan, “Kalau kau memiliki pikiran negatif, tinggalkan pikiran itu di pintu.”
Aku sudah berbulat hati untuk membantu Vicki mengalahkan tumor itu. Kami berdua membuat perjanjian yang disebut 50-50. Aku berjuang 50% dan Vicki akan memperjuangkan 50% sisanya.
Bulan Agustus tiba dan kuliah tingkat tiga akan dimulai di aloneuniversitas yang jaraknya 3000 mil dari rumah. Aku bingung, apakah aku harus pergi atau tetap menemani Vicki. Aku salah bicara, menyebutkan bahwa aku mungkin tak akan pergi kuliah. Ia menjadi marah dan menyuruhku untuk tidak khawatir karena dia akan baik-baik saja. Jadi, malah Vicki, yang berbaring sakit di tempat
tidur di rumah sakit, yang menyuruhku agar jangan khawatir. Aku sadar bahwa kalau aku tetap bersamanya, aku
mungkin akan menyiratkan bahwa dia sedang sekarat dan aku tak mau ia berpikir begitu. Vicki harus yakin bahwa ia dapat menang melawan tumor itu.
Kepergianku malam itu, merasakan bahwa ini mungkin terakhir kalinya aku melihat Vicki dalam keadaan hidup, adalah hal yang tersulit yang pernah kulakukan. Selama kuliah, aku tak pernah berhenti memperjuangkan 50% bagianku untuknya. Setiap malam sebelum tidur, aku berbicara dengan Vicki, berharap ia dapat mendengarku. Aku berkata, “Vicki, aku sedang berjuang untukmu dan aku tak akan menyerah. Asalkan kau tak pernah berhenti berjuang, kita dapat mengalahkan tumor ini.”
Beberapa bulan berlalu dan dia masih bertahan. Aku sedang berbicara dengan seorang teman yang lebih tua dan ia menanyakan keadaan Vicki. Aku bercerita bahwa kondisinya makin buruk, tapi dia tak menyerah.
Temanku melontarkan suatu pertanyaan yang benar-benar membuatku berpikir. Katanya, “Menurutmu, apakah dia bertahan itu karena dia tak mau mengecewakanmu?” Mungkin perkataannya benar? Mungkin aku egois, menyemangati Vicki untuk terus berjuang? Malam itu sebelum tidur, aku berkata padanya, “Vicki, aku mengerti kau sangat menderita dan mungkin kau ingin menyerah. Kalau memang begitu, aku mendukungmu. Kita tidak akan kalah karena kau tak pernah berhenti berjuang. Kalau kau ingin pergi ke tempat yang lebih baik, aku mengerti. Kita pasti bersama lagi. Aku menyayangimu dan aku akan terus bersamamu di mana pun kau berada.”
Keesokan paginya, ibuku menelepon, memberi tahu bahwa Vicki telah meninggal.

Kejuruan yang menyelamatkan jiwa

Disuatu desa terpencil dipinggiran kota , tinggalah seorang anak laki-laki bersama 6 saudaranya, kehidupan keluarga ini terlihat sangatlah sederhana, orang tuanya hanya seorang buruh tani, kakak dan adiknya semua masih bersekolah sementara ibunya hanya seorang ibu rumah tangga yang hanya mengurusi keluarga. Untuk membantu keuangan keluarganya setiap hari selepas pulang sekolah , ia pergi kepasar untuk berjualan asongan.
Pada suatu hari saat anak ini sedang menjajakan dagangannya, tiba-tiba ia melihat sebuah bungkusan kertas koran yang cukup besar , terjatuh dipinggir jalan, lalu diambilnya bungkusan tersebut, kemudian dibukanya bungkusan itu, namun betapa kaget dan terkejutnya ia, ternyata isi bungkusan tersebut berisi uang dalam nominal besar.
Tampak diraut wajahnya rasa iba dan bukan kegembiraan, ia tampak kebinggungan, karena ia yakin uang ini pasti ada yang memilikinya , pada saat itu juga anak ini langsung berinisiatif untuk mencari sipemilik bungkusan tersebut, sambil mencari-cari sipemiliknya, tiba-tiba seorang ibu dengan ditemani seorang satpam datang dengan berlinang air mata menghampiri anak kecil itu , lalu ibu ini berkata “dek, bungkusan

Mencelakai Orang lain

Mencelakai orang lain… apa ya? Pasti yang kepikir sama kalian untuk kita pelajari hari ini adalah mencelakai dalam hal yang berat seperti menganiaya, membunuh atau bahkan sengaja membuat orang lain terancam keselamatannya secara jasmani. Tapi mencelakai orang lain yang akan kita bahas adalah mencelakai orang lain dalam hal rohani. Jika kita membuat orang lain jatuh dalam hal rohani artinya kita telah menjadi batu sandungan bagi orang lain. Dan itu adalah hal yang berdosa. Cobalah perhatikan ilustrasi ini:

Anggap nama anak ini adalah Clarissa. Dia sering dipanggil Rissa. Dia punya sahabat bernama Veronika. Mereka sangat akrab. Suatu ketika di kantin sekolah, Veronika membeli nasi dan lauk, yaitu sate kelinci. Menurut anggapan Clarissa dan keluarganya sate kelinci adalah makanan yang tidak wajar dan dapat membuat seseorang sial dalam kurun waktu tertentu. Jelas aja, Veronika menjadi takut dan memakan makanannya dengan terpaksa karena tidak ingin membuang makanannnya. Terkadang kita tidak memperhatikan hal kecil ini. Menjadi batu sandungan bagi orang lain melalui makanan. Jika Veronika makan makanan itu dengan iman, maka ia takkan menjadi berdosa. Karena menurut bacaan kita, segala sesuatu yang dilakukan tanpa iman akan menimbulkan dosa. Kalau begitu hal makanan juga sama. Yang diumpamakan dalam bacaan pun adalah makanan. Bener kan, gak nyadar… kalau sekarang udah tau. Hati-hati ya teman! Cobalah kembali berhati-hati. Jikalau kita punya pantangan seperti yang kita percayai jangan jadikan itu batu sandungan untuk orang lain ya!

Minggu, 10 Juli 2011

Memo dari Tuhan


Akulah Allah. Hari ini Aku akan menangani semua masalamu. Harap diingat bahwa Aku tidak membutuhkan bantuanmu. Jika hidup yang terjadi untuk memberikan situasi kepadamu bahwa Kamu tidak bisa menangani, jangan mencoba untuk mengatasinya. Mohon taruh dikotak. Ini akan dibahas dalam waktu-Ku, bukan milikmu.

Pagar yang tak terobati


Upi’x Mamooth

Pernah ada seorang anak kecil yang memiliki temperamen buruk.

Ayahnya memberinya sekantong paku dan mengatakan kepadanya bahwa setiap kali ia marah, ia harus memaku pagar yang ada dibelakang rumah.

Hari pertama anak itu telah didorong 37 paku ke pagar. Selama beberapa minggu berikutnya, saat ia belajar untuk mengendalikan amarahnya, jumlah paku dipagar sehari-hari secara bertahap menyusut turun.

Ia menemukan lebih mudah menahan amarahnya dari pada mendorong paku-paku ke pagar.

Jumat, 17 Juni 2011

Gerhana 16 Juni 2011

Gerhana yang terjadi pada kemarin hari banyak mengecewakan para masyarakat yang berada diwilayah manado. karna bertepatan dengan kejadian yang sudah lama ditunggu-tunggu hujan turun untuk menghalangi pemandangan yang seharusnya itu menjadi suatu fenomena yang takan pernah dilupakan bagi para pecinta alam.

Hujan yang turun mulai dari jam kira-kira pukul 18.30 itu membuat aku dan teman"Q merasa kecewa...
Tapi biarlah ini terlewatkan. Karna saya berjanji dari dendam untuk HUJAN bahwa suatu saat Gerhana pasti akan takluk dihadapanQ....

Kamis, 16 Juni 2011

Hujan pada tanggal 16 Juni 2011 menghalangi para masyarakat yang ada didaerah manado. Sehingga kekecewaan menyelimuti hati para masyarakat yang ada...

Padahal untuk melihat fenomena alam gerhana bulan yang kali ini menjadi sebuah gerhana bulan total terlama sepanjang sejarah. Gerhana kali ini dapat dilihat menggunakan mata telanjang selama 100 menit.

aQ dan teman"Q menunggu untuk menantikan datangnya fenomena yang pasti takan terlupakan seumur hidup...
tapi karna HUJAN yang turun tanpa henti itu menunda aQ dan teman"Q melihat keajaiban Dunia ini...
tapi mungkin ini salah satu rencana Tuhan. Dan aq tak terlalu kecewa karna untuk tahun ini aQ dapat menyaksikan fenomena ini dihari dan bulan yang berbeda.

dan semoga penantianQ kali ini tidak akan terjadi seperti saat ini...

Rabu, 08 Juni 2011

Cita-cita

Cita-cita adalah harapan yang ingin Q capai dengan ketulusan dan perjuangan yang rela mempertaruhkan akan cinta yang nyatanya akan lebih muda tuk Q gapai tetapi nikmatnya cinta menahan Q tuk tak bisa melangkah lebih jauh dengan cita-citaQ.

Perjuangan dan pengorbanan mengajarkanQ tuk mengerti artinya sebuah cita-cita dan kadang dia membuatQ lari menghindari setiap masalah dan persoalan yang sedang dan sementara Q jalani.

Dan bahkan sering membuatQ berfikir betapa rumitnya menggapai sebuah cita-cita, n betapa gilanya diriku berkorban mempertaruhkan akan waktu dan tenaga hanya karna ingin menggapai dan berharap cita-citaQ terpenuhi dengan karya dan kehormatan yang selalu mengambang dalam dunia imajinasi Q..

Akan tetapi dalam penggapaian sebuah cita-cita tak hanya mengorbankan waktu dan tenaga tetapi disini kita dituntut juga untuk mengorbankan perasaan dan air mata dikala kita terjatuh sampai kita terinjak untuk mencapai suatu impian.

Why...?

WHY....?

Ketika saat mata ini dipejamkan, seluruh bayang dirimu masuk dalam pikiranku sehingga wajahmu ikut mengalir dalam alunan mimpi yang tak ingin berakhir..
Saat embun pagi menjemputku aku hanya dapat mengingat dirimu dan hanya dapat menDoakanmu..tapi dalam tanyaku apakah kau juga menDoakanku..?
Perasaan ini hanya dapat dipendam didalam hati..karna mungkin dan pasti perasaan ini akan selalu menangis saat melihat sang ratu tersenyum,dan kan kecewa saat melihat sang ratu tertawa…
Ku hanya dapat berDoa untuk bermohon, agar dia dapat melihat aku dengan senyuman yang terburuk karna apa artinya hati jika hanya dipaksakan dengan sejumlah kasih yang tak bermakna atau kasih tersembunyi….
Kuingin dia yang kusayangi dapat mengerti maksud perasaanku, karna saat ini aku serasa seperti raja dari sang pemuja rahasia
Jadilah seorang malaikat dalam pengharapanku, karana kaulah yang selalu kunanti dan Jadilah harapanku dan bersedialah disaat kusiap untuk menjadi seorang lelaki yang mencintaimu.

Minggu, 05 Juni 2011

Berapa Orang yang akan masuk Surga Jika hari ini Yesus datang untuk ke-dua kalinya?

Data penganut agama di Dunia The last 2009. Jumlah populasi dunia saat ini (sampai akhir tahun 2009) adalah 6,78 miliar manusia. The World Almanac and Book of Facts 2009 mencatat data 8 jenis keyakinan manusia yang paling banyak dianut di seluruh dunia adalah sbb:

• Muslim 1,57 miliar;
• Kristen 2,2 miliar (1,1 miliar di antaranya adalah Katholik Roma), jika dipisah, Islamlah agama mayoritas di dunia;
• Atheis 1,1 miliar;
• Hindu 900 juta;
• Konghucu/Kepercayaan China 395 juta;
• Buddha 377 juta orang;
• Pengikut ajaran Sikh 23 juta;
• Yahudi itu jumlahnya ‘hanya’ 15 juta saja di dunia ini;
• Lain-Lain 200 juta

Dr. Rod Bell, president of the Fundamental Baptist Fellowship of America, memperkirakan bahwa 50 persen dari anggota gereja hidup tanpa Kristus. Perkiraannya ini sesuai dengan perkiraan Bob Jones, Sr. …yang